Bayangkan Anda sedang berdiri di depan pintu baja sebuah pusat data raksasa yang menyimpan seluruh rahasia perbankan, infrastruktur energi, hingga database intelijen dunia.
Di dalam sana, deretan server bekerja tanpa henti. Jika Anda mengintip ke dalam monitor-monitornya, Anda tidak akan menemukan antarmuka penuh warna yang ramah seperti di laptop rumahan. Anda hanya akan melihat barisan teks putih di atas layar hitam.
Itulah Linux. Dalam dunia keamanan siber, Linux bukan sekadar sistem operasi; ia adalah “bahasa ibu”. Mengapa para ahli siber sangat memuja Linux? Jawabannya adalah Transparansi. Tidak seperti sistem operasi komersial yang kodenya terkunci rapat, Linux bersifat terbuka (open-source). Di unit siber, kita memegang prinsip bahwa keamanan tidak boleh datang dari ketidaktahuan. Dengan Linux, kita bisa membedah setiap baris kode untuk memastikan tidak ada pintu rahasia (backdoor) yang ditanam oleh musuh.